KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
RESUME KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
Disusun Oleh :
Nama : Mujibburrahman
NIM : 11901096
Dosen Pengampu : Farninda Aditya, S.Pd.I., M.Pd
PROGRAM STUDI S1
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK
TAHUN AJARAN 2020/2021
Karakteristik Peserta Didik
Memahami karakteristik peserta didik merupakan hal yang sangat penting guna tercapainya tujuan pembelajaran. Dalam kegiatan pembelajaran harus ada ketersambungan komunikasi antara pendidik dengan peserta didik. Karena itu pemahaman karakteristik peserta didik adalah sesuatu yang mutlak oleh pendidik karena adanya bermacam-macamnya karakter yang membutuhkan penanganan dan langkah yang berbeda. Untuk itu beberapa hal yang perlu kita fahami :
a. Karakteristik Individu
Individu berasal dari kata indivera yang berarti satu kesatuan organisme yang tidak dapat dipisahkan. Individu merupakan kata benda dari individual yang berarti orang atau perseorangan. Setiap individu pasti mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan, karena itu merupakan sifat kodrat manusia yang perlu diperhatikan. Perbedaan makna dari pertumbuhan dan perkembangan adalah istilah pertumbuhan digunakan untuk menyatakan perubahan kuantitatif mengenai aspek fisik atau biologis, sedangkan istilah perkembangan digunakan untuk perubahan kualitatif mengenai aspek psikis atau rohani. Dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya, manusia memiliki berbagai kebutuhan yang dapat dibedakan menjadi kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder. Selain itu seiring usianya bertambah, kebutuhan individupun akan juga bertambah.
b. Karakteristik Individu Sebagai Peserta Didik
Individu memiliki sifat bawaan (heredity) dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan sekitar. Menurut ahli psikologi, kepribadian dibentuk oleh perpaduan faktor pembawaan dan lingkungan. Karakteristik yang bersifat biologis cenderung lebih bersifat tetap, sedangkan karakteristik yang berkaitan dengan faktor psikologis lebih mudah berubah karena dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan. Setiap peserta didik memiliki karakteristik, yaitu Kehidupan individu yang utuh, lengkap, dan memiliki ciri khusus/unik.
Kehidupan pribadi seseorang menyangkut berbagai aspek, antara lain:
1. aspek emosional
2. aspek sosial psikologis
3. aspek sosial budaya
4. kemampuan intelektual terpadu secara integratif terhadap faktor
lingkungan.
Karakteristik kehidupan pribadi bersifat khusus, dengan kata lain tidak dapat disamakan dengan individu-individu lainnya. Seseorang individu juga memerlukan sebuah pengakuan dari pihak lain tentang harga dirinya. Ia mempunyai harga diri dan berkeinginan untuk selalu mempertahankan harga diri tersebut. Menurut ahli psikologi perkembangan kehidupan pribadi manusia dipengaruhi oleh faktor keturunan (pembawaan) dan faktor lingkungan (pengalaman).
Aliran Nativisme menyatakan perkembangan pribadi telah ditentukan sejak lahir, sedangkan aliran Empirisme menyatakan perkembangan pribadi dibentuk oleh lingkungan hidupnya. Aliran yang menyatakan bahwa kedua faktor itu secara terpadu memberikan pengaruh tarhadap kehidupan seseorang adalah aliran konvergensi. Perkembangan pribadi setiap individu berbeda-beda sesuai dengan pembawaan dan lingkungan tempat mereka hidup dan dibesarkan. Oleh karena itu, kepribadian setiap individu akan berbeda-beda sesuai denga sifat badan dan kondisi lingkungan hidupnya.
Adapun kepribadian atau tingkah laku seseorang dipengaruhi oleh proses perkembangan kehidupan sebelumnya dan dalam perjalanannya berinteraksi dengan lingkungannya serta kejadian-kejadian saat sekarang. Kehidupan pribadi yang mantap akan membentuk perilaku yang mantap pula, sehingga mampu memecahkan berbagai permasalahan hidupnya.
Sebagai upaya pengembangan kehidupan pribadi dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Membiasakan hidup sehat, teratur, serta efisien waktu, mengenal dan memahami nilai-nilai dan norma sosial yang berlaku secara baik dan benar.
2. Mengerjakan tugas dan pekerjaan sehari-hari secara mandiri dan penuh tanggung jawab.
3. Sering bersosialisasi dengan masyarakat.
4. Melatih cara merespon berbagai masalah dengan baik.
5. Menghindari sikap dan tindakan yang bersifat lari dari masalah.
6. Disiplin, patuh, dan tanggung jawab terhadap aturan hidup keluarga.
7. Melaksanakan peran sesuai status dan tanggung jawab dalam kehidupan keluarga.
8. Berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan ketrampilan sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki, baik melalui pendidikan yang formal maupun tidak.
Selain itu perlu diciptakan suasana yang kondusif dan keteladanan dari pihak yang memiliki otoritas, serta mengefektifkan perkembangan sosial. Tentang pertumbuhan dan perkambangan para ahli menyatakan bahwa istilah pertumbuhan tidak bisa dipisahkan, namun bila ingin dibedakan maka pertumbuhan lebih menunjuk kepada perubahan fisik sedang pekembangan lebih menuju kepada perubahan psikis dimana perubahan-perubahan tersebut terjadi akibat dari kekuatan-kekuatan interen secara otomatis dan kekuatan-kekuatan dari luar.
Istilah pertumbuhan biasa digunakan untuk menyatakan perubahan-perubahan ukuran fisik yang secara kuantitatif yang semakin lama semakin besar atau panjang. Dan istilah perkembangan digunakan untuk menyatakan perubahan-perubahan dalam aspek psikologis dan sosial dimana aspek ini meliputi aspek-aspek intelek, emosi, bahasa, bakat khusus nilai dan moral serta sikap. Adapun pokok-pokok pertumbuhan dan perkembangan diantaranya:
a. Pertumbuhan fisik
Pada dasarnya merupakan perubahan fisik dari kecil atau pendek menjadi besar dan tinggi yang prosesnya terjadi sejak sebelum lahir hingga dia dewasa pertumbuhan fisik ini sifatnya dapat di indra oleh mata dan dapat di ukur oleh satuan tertentu.
b. Perkembangan Intelektual atau daya pikir
Intelek atau daya pikir seseorang berkembang berjalan dengan pertumbuhan saraf otaknya dalam tahap ini inidividu lebih menonjolkan pada sikap refleknya terhadap stimulan dan respon terhadap stimulan tersebut.
c. Perkembangan emosi
Berhubungan erat dengan keinginan untuk segera memenuhi kebutuhan terutama kebutuhan primer. Jika kebutuhan itu tidak segera dipenuhi, dia akan merasa kecewa dan sebaliknya. Kecewa dan puas merupakan perasaan yang mengandung unsur senang dan tidak senang seperti pada pertumbuhan bayi. Emosi ini merupakan perasaaan yang disertai oleh perubahan perilaku fisik sebagai contoh bayi yang lapar akan menangis dan akan semakin keras tangisanya jika tidak segera disusui atau diberi makan. Perasaan marah ditunjukan oleh reaksi teriakan dengan suara keras dan jika sedang merasa gembira akan melonjak-lonjak sambil tertawa lebar dan sebagainya.
d. Perkembangan Sosial
Dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya, setiap individu tidak dapat berdiri sendiri atau membutuhkan bantuan individu lain demi untuk dapat mempertahankan kehidupanya. Adapun lingkungan sosial individu dalam peran perkembangannya dimulai dari lingkungan keluarga, lingkungan luar keluarga, lingkungan masyarakat selanjutnya orang yang dikenal semakin banyak dan semakin heterogen dalam berkehidupan sosial. Dalam perkembangannya dia mengetahui bahwa kehidupan manusia itu tidak seorang diri, harus saling membantu dan dibantu, memberi dan diberi dan sebagainya.
e. Perkembangan Bahasa
Fungsi pokok bahasa adalah sebagai alat komunikasi atau sarana pergaulan dengan sesamanya. Bahasa sebagai alat komunikasi dapat diartikan sebagai tanda, gerak, dan suara untuk menyampaikan isi pikiran dan perasaan kepada orang lain.
f. Bakat Khusus
Seseorang yang memiliki bakat akan mudah dapat diamati karena kemampuan yang dimilikinya berkembang dengan pesat, seperti kemampuan dibidang seni, olahraga, atau ketrampilan.
g. Sikap, Nilai, dan Moral
Adapun masa anak-anak, perkembangan moral yang terjadi masih relatif terbatas. Ia belum menguasai nilai-nilai abstrak yang berkaitan dengan benar-salah dan baik-buruk atau inteleknya masih terbatas. Selain itu ia belum mengetahui manfaat suatu nilai dan norma dalam kehidupannya. Semakin tumbuh dan berkembang fisik dan psikisnya, ia mulai dikenalkan terhadap nilai-nilai, ditunjukkan hal-hal yang boleh dan yang tidak boleh, yang harus dilakukan dan yang dilarang. Proses ini dikenal dengan istilah sosialisasi nilai-nilai.
Setiap individu terjadi variasi individual dalam perkembangan yang menyangkut variasi yang terjadi pada aspek fisik maupun psikologis. Hal ini terjadi karena perkembangan itu sendiri merupakan suatu proses perubahan yang kompleks, melibatkan berbagai unsur yang saling berpengaruh satu sama lain. Perbedaan yang paling mudah dikenali adalah perbedaan fisik, seperti bentuk badan, warna kulit, bentuk muka, tinggi badan, sikap perilaku seperti kelincahan, banyak bergerak, suka bicara, pendiam, tidak aktif, dan nada suaranya rendah.
Diantara Bidang-bidang perbedaan individual meliputi:
1. Umur kronologis,
2. Jumlah dan jenis pengalaman dan pengetahuan yang dibawa individu,
3. Kehidupan individu dalam berkelompok, berkeluarga, dan bermasyarakat,
4. Perbedaan kognitif mengarah pada proses belajar mengajar individu,
5. Kemampuan berbahasa (kemampuan berbahasa ini berbeda antara satu individu dan individu lainnya serta sangat dipengaruhi oleh faktor kecerdasan dan faktor lingkungan),
6. Perbedaan dalam kecakapan motorik (Kemampuan motorik dipengarui oleh kematangan pertumbuhan fisik dan tingkat kemampuan berfikir seseorang karena kematangan pertumbuhan fisik dan kemampuan berfikir setiap orang berbeda-beda, kecakapan motorik masing-masing pun berbeda),
7. Perbedaan dalam latar belakang (latar belakang keluarga, baik dilihat dari segi sosial ekonomi, kultural adalah berbeda-beda). Demikian pula lingkungan sekitarnya, baik lingkungan sosial budaya maupun lingkungan fisik akan berpengaruh yang berbeda-beda.
8. Perbedaan bakat (bakat adalah kemampuan khusus yang dimiliki seseorang sejak lahir). Kemampuan tersebut akan berkembang secara baik apabila mendapat rangsangan dan latihan secara tepat oleh karena itu bakat masing-masing individu sangat komplek hal ini tergantung individu itu sendiri dan pemberian rangsangan maupun pelatihannya,
9. Perbedaan dalam kesiapan belajar (perbedaan individu tidak hanya disebabkan oleh keragaman kematangan tapi juga oleh keragaman latar belakang sebelumnya) contoh bagi anak kelas satu sekolah dasar ditemukan umur kronologis antara 8 tahun sampai 9 tahun yang secara normal seharusnya telah duduk di kelas 2 atau 3 tapi kemampuan belajarnya masih sama dengan mereka yang duduk di kelas 1 hal ini menggambarkan pengaruh lingkungan keluarga yang amat buruk sehingga kemampuan dan ekspresi berbahasanya kurang baik.
Pada dasarnya Setiap individu adalah khas atau unik. Perbedaan ini meliputi perbedaan fisik, pola berfikir dan cara merespon atau mempelajari hal baru. Di dalam hal belajar, tiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam menyerap materi pelajaran. Oleh karena itu, dalam dunia pendidikan dikenal berbagai metode untuk memenuhi tuntutan perbedaan individu. Berdasarkan kemampuan yang dimiliki otak cara belajar individu dapat dibagi dalam 3 kategori yaitu:
1. Cara belajar visual atau melihat,
2. Auditorial atau mendengar,
3. Kinestik.
Pengategorian ini merupakan pedoman bahwa individu memiliki salah satu karakteristik yang paling menonjol sehingga jika dia mendapatkan rangsangan yang sesuai dalam belajar, dia mudah menyerap pelajaran karena individu menemukan metode belajar yang sesuai dengan karakteristik cara belajar dirinya, dia akan cepat menjadi pintar.
3. Gaya mengajar pendidik
Pendidik adalah orang dewasa yang secara sadar bertanggung jawab dalam mendidik, mengajar, dan membimbing peserta didik. Orang yang disebut pendidik adalah orang yang memiliki kemampuan merancang program pembelajaran serta mampu menata dan mengelola kelas agar siswa dapat belajar dan pada akhirnya dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagai tujuan akhir dari proses pendidikan.
Mengajar pada hakikatnya bermaksud mengantarkan siswa mencapai tujuan yang telah direncanakan sebelumnya. Dalam praktek, perilaku mengajar yang dipertunjukkan guru sangat beraneka ragam, meskipun maksudnya sama. Aneka ragam perilaku guru mengajar ini bila ditelusuri akan diperoleh gambaran tentang pola umum interaksi antara guru, isi atau bahan pelajaran dan siswa. Pola umum ini oleh Dianne Lapp dan kawan-kawan diistilahkan “Gaya Mengajar” atau teaching style.
Gaya mengajar adalah bentuk penampilan guru saat proses belajar mengajar baik yang bersifat kurikuler maupun psikologis. Gaya mengajar yang bersifat kurikuler adalah guru mengajar yang disesuaikan dengan tujuan mata pelajaran tertentu. Sedangkan gaya mengajar yang bersifat psikologis adalah guru mengajar yang disesuaikan dengan motivasi siswa, pengelolaan kelas, dan evaluasi hasil belajar mengajar.
Gaya mengajar seorang guru berbeda antara yang satu dengan yang lain pada saat proses belajar mengajar walaupun mempunyai tujuan sama, yaitu menyampaikan ilmu pengetahuan, membentuk sikap siswa, dan menjadikan siswa terampil dalam berkarya. Dengan demikian, gaya mengajar guru menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan prestasi siswa. Gaya-gaya mengajar dapat dibedakan ke dalam empat macam, yaitu:
1) Gaya Mengajar Klasik
Guru dengan gaya mengajar klasik masih menerapkan konsepsi sebagai satu-satunya cara belajar dengan berbagai konsekuensi yang diterimanya. Guru masih mendominasi kelas dengan tanpa memberi kesempatan pada siswa untuk aktif sehingga akan menghambat perkembangan siswa dalam proses pembelajaran. Gaya mengajar klasik tidak sepenuhnya disalahkan manakala kondisi kelas yang mengharuskan seorang guru berbuat demikian, yaitu kondisi kelas dimana siswanya mayoritas pasif.
2) Gaya Mengajar Teknologis
Fokus gaya mengajar ini pada kompetensi siswa secara individu. Bahan pelajaran disesuaikan dengan tingkat kesiapan anak. Peranan isi pelajaran adalah dominan. Oleh karena itu bahan disusun oleh ahlinya masing-masing. Peranan siswa disini adalah belajar dengan menggunakan perangkat atau media. Dengan hanya merespon apa yang diajukan kepadanya melalui perangkat itu, siswa dapat mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dalam kehidupan. Peranan guru hanya sebagai pemandu (guide), pengarah (director), atau pemberi kemudahan (facilitator) dalam belajar karena pelajaran sudah diprogram. Pendidikan teknologis memandang bahwa pendidikan merupakan cabang terpenting dari scientific technology.
3) Gaya Mengajar Personalisasi
Guru yang menerapkan gaya mengajar personalisasi menjadi salah satu kunci keberhasilan pencapaian prestasi belajar siswa. Guru memberikan materi pelajaran tidak hanya membuat siswa lebih pandai semata-mata, melainkan agar siswa menjadikan dirinya lebih pandai. Guru dengan gaya mengajar personalisasi ini akan selalu meningkatkan belajarnya dan juga senantiasa memandang siswa seperti dirinya sendiri. Guru tidak dapat memaksakan siswa untuk menjadi sama dengan gurunya, karena siswa tersebut mempunyai minat, bakat, dan kecenderungan masing-masing.
Tujuan utama pengajaran personalisasi mengembangkan pribadi siswa secara utuh, sehingga dia dapat menangani masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Oleh karenanya pengembangan kemampuan berfikir sebagai suatu sarana dalam mematangkan pribadi mempunyai maksud luas, dan dilakukan melalui kegiatan yang kompleks. Masalah yang dipelajari pun menyangkut segi kehidupan real yang dihadapi. Dengan demikian dapat terpenuhi minat dan kebutuhan psikologis siswa.
4)Gaya Mengajar Interaksional
Gaya mengajar interaksional lebih mengedepankan dialogis dengan siswa sebagai bentuk interaksi yang dinamis. Guru dan siswa atau siswa dengan siswa saling ketergantungan, artinya mereka sama-sama menjadi subyek pembelajaran dan tidak ada yang dianggap baik atau sebaliknya. Dalam hal ini guru menyodorkan masalah kepada siswa, selanjutnya dengan proses diskusi, siswa mengemukakan pendapat, menanggapi dan menyela atau mendukung pendapat lain, sehingga ditemukan kesimpulan tentang masalah yang dibahas itu. Dasar pandangan pengajaran interaksional adalah bahwa hasil belajar diperoleh melalui antara guru-siswa, dan siswa-siswa lain, juga interaksi antara siswa dengan kehidupannya.
Bahan belajaran dalam pendidikan interaksional tidak disusun berdasarkan suatu subjek tertentu. Melainkan dikembangkan dari masalah sosio-kultural yang bersifat kontemporer. Berdasarkan masalah itu diharapkan dapat ditemukan ide baru yang merupakan modifikasi dari berbagai ide yang muncul dan berkembang. Oleh karena itu tidak dijumpai kurikulum formula yang tersusun secara sistematis.
Secara psikologis, perkembangan mental anak dipandang sejalan dengan perkembangan segi kognitifnya. Manusia tumbuh dan berkembang dengan interaksinya dengan lingkungan, dan interaksi ini dapat memungkinkan terjadinya kematangan pada diri individu itu sendiri, terutama dalam menghadapi realita kehidupan.
Model mengajar banyak tergantung kepada falsafah yang dipegang oleh guru. Berlandaskan kepada falsafah pendidikan itu, guru dapat mencari bentuk penerapannya, baik bersifat kurikuler maupun psikologis. Bila guru ingin mencoba untuk menemukan atau gaya mengajar yang cocok baginya untuk dapat membantu siswa belajar, maka sebelumnya guru harus menentukan tujuan yang ingin dicapai. Selanjutnya baru dikaji penerapan kurikulum dan psikologis dalam pengajaran yang dilaksanakannya. Penerapan kurikulum berkaitan dengan bahan yang diajarkan, peranan guru, peranan siswa, sumber belajar dan proses pengajaran. Sedangkan psikologi berkenaan dengan teori belajar yang dipegang, motivasi, pengelolaan kelas dan evaluasi hasil belajar.
Guru yang sudah mantap dengan gaya mengajar tertentu dapat pula merubah gaya mengajarnya. Untuk ini, seorang guru perlu mempunyai pemahaman terlebih dahulu tentang berbagai gaya mengajar, sebelum ia mencobakan suatu gaya tertentu yang bukan menjadi miliknya. Keberhasilan guru dalam menampilkan suatu gaya mengajar, pada akhirnya bergantung pada sikap mental dan upaya guru itu sendiri. Disamping itu, konservatifisme guru (berpegang pada satu gaya tertentu saja) maupun kreativitas (selalu mencari cara bentuk gaya mengajar) menyebabkan guru dapat menampilkan gaya mengajar secara lebih efektif dan efesien.
4. Gaya Belajar Peserta Didik
Kemampuan seseorang untuk memahami dan menyerap pelajaran sudah pasti berbeda tingkatnya. Ada yang cepat, sedang, dan ada pula yang sangat lambat. Oleh karena itu, mereka seringkali harus menempuh cara berbeda untuk bisa memahami sebuah informasi atau pelajaran yang sama. Gaya belajar merupakan cara belajar yang khas bagi siswa. Apapun cara yang dipilih, perbedaan gaya belajar itu menunjukkan cara tercepat dan terbaik bagi setiap individu untuk bisa menyerap sebuah informasi dari luar dirinya. Jika kita bisa memahami bagaimana perbedaan gaya belajar setiap orang itu, mungkin akan lebih mudah bagi kita jika suatu ketika, misalnya, kita harus memandu seseorang untuk mendapatkan gaya belajar yang tepat dan memberikan hasil yang maksimal bagi dirinya.
Para peneliti menemukan adanya berbagai gaya belajar pada siswa yang dapat digolongkan menurut kategori-kategori tertentu. Mereka berkesimpulan, bahwa :
1. Tiap peserta didik belajar menurut cara sendiri yang kita sebut gaya belajar. Juga pendidik mempunyai gaya mengajar masing-masing.
2. Kita dapat menemukan gaya belajar itu dengan instrumen tertentu.
3. Kesesuaian gaya mengajar dengan gaya belajar mempertinggi efektivitas belajar.
4. Informasi tentang adanya gaya belajar yang berbeda-beda mempunyai pengaruh atas kurikulum, administrasi, dan proses mengajarbelajar. Masalah ini sangat kompleks, sulit, memakan waktu banyak, biaya yang tidak sedikit, frustasi.
Gaya belajar bukan hanya berupa aspek ketika menghadapi informasi, melihat, mendengar, menulis dan berkata tetapi juga aspek pemrosesan informasi sekunsial, analitik, global atau otak kiri-otak kanan, aspek lain adalah ketika merespon sesuatu atas lingkungan belajar (diserap secara abstrak dan konkret).
Dari pengertian-pengertian di atas, disimpulkan bahwa gaya belajar adalah cara yang cenderung dipilih siswa untuk bereaksi dan menggunakan perangsang-perangsang dalam menyerap dan kemudian mengatur serta mengolah informasi pada proses belajar.
Berdasarkan prefensi sensori atau kemampuan yang dimiliki otak dalam menyerap, mengelola dan menyampaikan informasi, maka gaya belajar individu dapat dibagi dalam 3 (tiga) kategori. Ketiga kategori tersebut adalah gaya belajar visual, auditorial dan kinestetik yang ditandai dengan ciri-ciri perilaku tertentu. Pengkategorian ini tidak berarti bahwa individu hanya yang memiliki salah satu karakteristik gaya belajar tertentu sehingga tidak memiliki karakteristik gaya belajar yang lain.
Pengkategorian ini hanya merupakan pedoman bahwa individu memiliki salah satu karakteristik yang paling menonjol sehingga jika ia mendapatkan rangsangan yang sesuai dalam belajar maka akan memudahkannya untuk menyerap pelajaran. Dengan kata lain jika sang individu menemukan metode belajar yang sesuai dengan karakteristik gaya belajar dirinya maka akan cepat ia menjadi "pintar" sehingga kursuskursus atau pun les prifat secara intensif mungkin tidak diperlukan lagi.
Menurut sebuah penelitian ekstensif, khususnya di Amerika Serikat, yang dilakukan oleh Profesor Ken dan Rita Dunn dari Universitas St. John, di Jamaica, New York, dan para pakar Pemrograman Neuro-Linguistik seperti, Richard Bandler, John Grinder, dan Michael Grinder, telah mengidentifikasi tiga gaya belajar dan komunikasi yang berbeda:
1. Visual. Belajar melalui melihat sesuatu. Kita suka melihat gambar atau diagram. Kita suka pertunjukkan, peragaan atau menyaksikan video.
2. Auditori. Belajar melalui mendengar sesuatu. Kita suka mendengarkan kaset audio, ceramah-kuliah, diskusi, debat dan instruksi (perintah) verbal.
3. Kinestetik. Belajar melalui aktivitas fisik dan keterlibatan langsung. Kita suka ”menangani”, bergerak, menyentuh dan merasakan/mengalami sendiri
REFERENSI
Abdul Majid dan Dian Andayani, 2004. Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Bafadal, Ibrahim, 2009. Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar, Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Uzer Usman, Moh, 2001. Menjadi Guru Profesional, Bandung : Remaja.
Ali, Muhammad, 2010. Guru dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Bafadal, Ibrahim, 2009. Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar, Jakarta: PT.Bumi Aksara.
Djamarah, Syaiful Bahri, 2005. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: Rineka Cipta.
Baharuddin, 2009. Pendidikan Psikologi Perkembangan, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Al Abrasyi, Athiyah,1970. Al Tarbiyah al Islamiyah, terj. Bustami: Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang.
Syah, Muhibbin, 2011. Psikologi Pendidikan, Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.
Ngalim Purwanto, Drs, M. 2008. Administrasi dan Supervisi Pendidikan, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.
Komentar
Posting Komentar